Archives

RAMADHAN

Ramadhan…
Aku menunggumu penuh harap
dengan segenap cita dan cinta
berbalut harap dan asa

Ramadhan…
Aku menantimu penuh rasa
Ingin jumpa
dalam rintik dan teriknya suasana

Oh, betapa tidak?
Berbulan lamanya engkau pergi

Betapa tidak?
Gelimangan rahmat tercurah dalam rentang masamu

Ah, tak ingin lagi kusiakan
tak ingin lagi kutinggalkan
tiap detik tak terlupakan
bersamamu…

Ketika mega merah berubah putih
dan adzan isya’ diperdengarkan
mengikutilah tarawih bersama kita
Khidmat dalam detak rindu pada Pencipta
Bukankah kenikmatan yang luar biasa?
Maka berpikirlah agar engkau termasuk orang yang beruntung lagi mengerti

Terjaga di akhir malam
di hangatkan nikmatnya munajat dalam sujud
pada Tuhan yang bahkan lebih dekat dari urat nadi kita
pula mengakhir sahur sebelum fajar
Bukankah kenikmatan yang luar biasa?
Rasakanlah.
Dan bersyukur pada Tuhanmu yang Maha Memberi

fajar, pagi-pagi, dan dhuha
yang gema ayat cinta-Nya menyejukkan jiwa
dari rumah-rumah, surau, hingga membumi
dan langit bersaksi
Dengarkanlah.
Dan tidakkah kau rasa cinta-Nya di setiap tarikan napasmu?

Dan siang yang membara
diwarna terik yang membakar himpunan raga
meraup sejuta dahaga
sedang bibir yang kering tak jemu bersuara
membaca huruf demi huruf
memahami kalam suci-Nya
Begitu sejuk, meski tak terlihat mata
Bukankah itu kenikmatan yang luar biasa?
Jangan menggeleng
Jangan mengangguk
Rasakanlah.
Dan betapa akan kau sadari
betapa Maha Pengasih dan Penyayang Tuhan kita.

Lalu senja
yang menyala jingga
bersemburatan di sisi-sisi langit
masih pula terlantun kalam cinta
dalam taat dan takwa yang indah
Jangan terdiam saja menanti tenggelamnya
Nikmati setiap detik dalam dzikir jiwa raga
Dan rasakan setiap sel bertasbih sebut asma-Nya
Indah, bukan?

Dan sang syams pun tenggelam
Air surgawi mengalir
sejukkan lorong kering nan merindu
meliputi taat, harap, dan cinta
membina takwa
membingkai syukur berpilar kesabaran
Ah…
Nikmat.
Bahagia.
Indah.
Sungguh!
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang hendak kau dustakan?
Dialah Allah, tiada Tuhan selain Ia
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Namun jangan terlena
bumi sudah merindukan keningmu lagi
Allah yang kau tuju telah memanggil
Maghrib, bukan?
Maka bersegeralah bersama senyummu

Dan ingatlah..
Kabar gembira untuk yang beriman,bertakwa dalam jalan-Nya

Dan ingatlah..
Kufur adalah celaka.
Kufur adalah celaka.
Maka kembalilah pada Tuhanmu yang Maha Pengampun
Maka kembalilah pada Tuhanmu yang masih memberi waktu
agar kau sadari
agar kau mengerti
dan agar kau kembali.
Dialah Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tiada daya dan kekuatan melainkan atas izin dan kuasa Allah.
Laa haula wa laa quwwata illaa billaahiil ‘aliyyil ‘adziim.

Asyhadu An Laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.

KEDIRI
Ahad, 10 Agustus 2008
21.07

Diena Fukiha

Jangan Menangis, Deff..

jalan panjangSemua bermula sejak malam itu. Aku tak tahu mengapa, ayah dan ibu bertengkar. Sebelumnya aku tak pernah melihat mereka seperti itu. Saat itu Deff telah tidur, sedangkan aku terjaga karena suara mereka yang seperti masuk dalam mimpiku. Tapi waktu itu aku juga masih terlalu kecil untuk mengerti. Kupikir hanya sekedar dan aku pun kembali tidur.

Pada pagi hari, aku pun sudah melupakannya. Sepertinya juga tak ada apapun yang mengingatkanku tentang malam itu. Tapi, tak begitu. Malam selanjutnya aku terjaga lagi karena pertengkaran mereka. Sesegera mungkin aku turun dari tempat tidur dan hendak keluar dari kamar. Tapi tak bisa. Kucoba membuka pintu itu berulang kali, tapi terkunci.

Dari lubang kuncilah , mataku menerawang. Deg!… jantungku bergoncang keras. Semua tak dapat kupercaya. Mengapa mereka harus melakukan itu? Mengapa harus memukul? Ibu, ayah, hentikan!!! Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi aku tak bisa. Mulutku terkunci seperti kamar ini…

Dan lubang kunci ini bersaksi atas mataku yang memandang mereka, hingga semuanya berakhir. Salah satu dari mereka pergi meninggalkan yang lain. Seketika gaungan suara di telingaku meredam. Seseorang masih duduk di sana. Memegang erat kepala dengan kedua tangannya. Aku terdiam. Tak mengerti mengapa.

Ia berdiri. Aku tertegun. Diraihnya kunci itu dan melangkah menuju pintu. Aku segera beranjak kembali pada selimutku. Kupejameratkan mataku. Aku susah mengatur napas.

Pintu itu terbuka. Sinar merambat remang ke dalam kamar. Langkahnya semakin mendekat. Jantungku berdebar. Aku.. aku tak mengerti. Aku takut seperti, padahal ia orang tuaku…

Ranjang Deff yang kuhadap adalah yang pertama. Ia duduk di sana. Tangannya…

Bersambung…

Untuk Jiwa-Jiwa yang Terjebak Sepi

frogaku ingin bertahan, tiada uluran tuk menahanku
mungkin memang tanganku yang harus menggenggam dan menguatkanmu

aku ingin bercerita, tiada teman tuk mendengar dan mengerti
mungkin memang aku yang harus siap mendengar dan terbuka tuk mengerti bahagia, duka dan laramu

aku ingin menangis,tiada yang memahami
mungkin memang aku yang harus mengerti dan memahami di kala tangismu

aku ingin bersandar,tiada bahu tuk ku sandari
mungkin memang bahuku yang harus kurendahkan untuk kau sandari

Aku tak sanggup berdiri, tiada jua yang menyertai
mungkin memang aku yang harus sedia menyertai dan menuntunmu ketika kau tak sanggup berjalan sendiri

Aku tak sanggup menahan luka, tak ada yang memelukku sepenuh jiwa
mungkin memang aku yang harus menguatkan diri

Manusia diciptakan berbeda-beda
Dan kekurangan bukan perhentian
karena di balik setiap kekurangan,
berdiri dan menanti peluang dan potensi kebaikan lain yang akan mengobatinya.

Ialah Allah yang Maha Adil lagi Maha Sempurna.

Jika ada kesalahan, sesungguhnya merupakan kekhilafan dan kecerobohanku
Sedang kebenaran dan kebaikan hanya datang dari Allah semata.

KEDIRI,
11-12 Agustus 2008
17.15 … 21.00