Archives

Jangan Menangis, Deff..

jalan panjangSemua bermula sejak malam itu. Aku tak tahu mengapa, ayah dan ibu bertengkar. Sebelumnya aku tak pernah melihat mereka seperti itu. Saat itu Deff telah tidur, sedangkan aku terjaga karena suara mereka yang seperti masuk dalam mimpiku. Tapi waktu itu aku juga masih terlalu kecil untuk mengerti. Kupikir hanya sekedar dan aku pun kembali tidur.

Pada pagi hari, aku pun sudah melupakannya. Sepertinya juga tak ada apapun yang mengingatkanku tentang malam itu. Tapi, tak begitu. Malam selanjutnya aku terjaga lagi karena pertengkaran mereka. Sesegera mungkin aku turun dari tempat tidur dan hendak keluar dari kamar. Tapi tak bisa. Kucoba membuka pintu itu berulang kali, tapi terkunci.

Dari lubang kuncilah , mataku menerawang. Deg!… jantungku bergoncang keras. Semua tak dapat kupercaya. Mengapa mereka harus melakukan itu? Mengapa harus memukul? Ibu, ayah, hentikan!!! Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi aku tak bisa. Mulutku terkunci seperti kamar ini…

Dan lubang kunci ini bersaksi atas mataku yang memandang mereka, hingga semuanya berakhir. Salah satu dari mereka pergi meninggalkan yang lain. Seketika gaungan suara di telingaku meredam. Seseorang masih duduk di sana. Memegang erat kepala dengan kedua tangannya. Aku terdiam. Tak mengerti mengapa.

Ia berdiri. Aku tertegun. Diraihnya kunci itu dan melangkah menuju pintu. Aku segera beranjak kembali pada selimutku. Kupejameratkan mataku. Aku susah mengatur napas.

Pintu itu terbuka. Sinar merambat remang ke dalam kamar. Langkahnya semakin mendekat. Jantungku berdebar. Aku.. aku tak mengerti. Aku takut seperti, padahal ia orang tuaku…

Ranjang Deff yang kuhadap adalah yang pertama. Ia duduk di sana. Tangannya…

Bersambung…