Seberkas jejak perjalanan kita yang lalu terkadang menampakkan berjuta perasaan yang bergelayut, mulai dari ingatan satu menuju ingatan yang lain, dari perasaan satu menuju perasaan yang lain, juga dari kepekaan satu menuju kepekaan yang lain.
Begitu juga saat kita melihat jejak perjalanan orang lain. Dapatlah kita merasakan, meski mungkin terlahir dari hasil pencerapan kita saja.
Seberkas jejak di masa lalu hingga masa kini, milik kita ataupun milik orang lain, membuat kita terus menyadari bahwa kita hanya masih bermain-main. Siapa diri kita ini sebenarnya? tiadalah yang pernah tahu kecuali yang tahu, dan tiadalah yang mampu menduga sebab semua tidak terduga.
Seberkas jejak di masa lalu dan masa kini, membuat kita terkadang bertanya, “lalu dimanakah letak kepuasan itu?”
Kepuasan yang dengannya kita merasa ridho dengan apa yang telah kita usahakan.. kepuasan yang dengannya kita dapat merasa tenang ketika Izroil menjemput ruh..
“dimanakah letak kepuasan itu?”
mungkin memang selayaknya, lebih baik manusia tidak merasa puas hingga terlena, sebab tidak ada satu pun yang menjamin kebaikannya akan terus berlangsung hingga akhir hayatnya.. atau apakah amalnya tersebut diterima.
Sebagai manusia…
Bagaimanapun, kami harus terus berbenah dan berjuang..
Sebagai manusia..
Siapapun kami, pastilah ingin dan senantiasa mengharap seruan ini:…
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”
(QS. Al Fajr 27-30)
Kertosono, 30 Januari 2012
di atas meja marmer, ruang tamu


