Apa itu Tarbiyah dan Liqo’ dan Untuk Apa ?

Pertanyaan…
Apa pandangan ustadz tentang Tarbiyah/Liqo’???Karena saya merasa bingung dengan liqo’ saya. Akhir2 ini saya merasa liqo’ saya itu karena ikut2 an teman saja dan karena termotivasi oleh seseorang dan setelah saya merasa kehilangan seseorang itu saya jadi malas untuk liqo’, saya pikir untuk apa saya liqo’?. Karena saya juga belum paham benar tentang urgensi liqo’ dan segalanya yang berkaitan dengan liqo’?. Saya juga tidak setuju dengan adanya taklimat dalam liqo’ tsb, karena menurut saya itu adalah pembodohan. Saya mohon penjelasannya, Jazakumullah. Wass
Jawaban :
Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d
1. Makna Tarbiyah dan Liqo`
Secara bahasa Tarbiyah itu maknannya adalah pendidikan atau pembinaan dan liqo` artinya pertemuan. Selain dua istilah itu ada lagi istilah lainnya yang terkait kuat yaitu halaqah. Secara istilah halaqah berarti pengajian dimana orang-orang yang ikut dalam pengajian itu duduk melingkar. Dalam bahasa lain bisa juga disebut majelis taklim, atau forum yang bersifat ilmiyah.
Istilah halaqah ini sangat umum di timur tengah dan biasa dilakukan di banyak Masjid. Materinya bisa berkaitan dengan kitab tertentu seperti aqidah, fikih, hadits, sirah dan seterusnya. Contoh yang paling mudah bisa kita dapati di dua masjid Al-Haram, Mekkah dan Madinah. Setiap hari selalu dipenuhi dengan halaqah yang diisi oleh para masyaikh / ustadz yang merupakan pakar di bidangnya.
Sedangkan isitlah liqo` lebih umum dari halaqah, karena isinya bisa saja bukan merupakan kajian ilmiyah, tetapi bisa diisi dengan rapat, pertemuan, musyawarah dan seterusnya.
Istilah halaqah dan liqo di Indonesia umumnya sering dikaitkan dengan pengajian dalam format kelompok kecil antar 5 s/d 10 orang, dimana ada satu orang yang bertindak sebagai nara sumber yang sering diistilahkan dengan murabbi / pembina. Secara umum, format halaqah dengan jumlah terbatas ini memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya adalah bahwa anggota dari halaqah itu biasanya adalah orang-orang yang sudah terpilih melalui semacam seleksi. Sehingga lebih mudah untuk penanganannya ketimbang bila jumlahnya terlalu banyak. Sehingga kontroling dari murabbi bisa lebih sempurna.
Kekurangannya adalah apabila kemampuan sang murabbi ini terbatas baik dari sisi waktu, ilmu dan kemampuan dalam membina, sehingga menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. Dari sisi ilmu dan wawasan, halaqah kecil ini akan sangat tergantung dari wawasan sang murabbi. Bila kemampuannya baik, maka umumnya anggotanya pun punya wawasan yang baik.
Sehingga meski pada beberapa sisi ada kelebihannya, tapi halaqah kecil ini perlu juga dilengkapi dengan penambahan ilmu-ilmu ke-islaman secara lebih lanjut dan lebih luas, bila ingin mencetak orang-orang yang ahli dalam bidang syariah Islam. Sekedar ikut halaqah yang jam pertemuannya hanya 2-3 jam sepekan tentu sangat kurang bila tujuannya adalah mendalami ilmu-ilmu keislaman. Apalagi bila sang murabbi terbatas ilmu dan kemampuan bahasa arabnya.
Tapi umumnya, halaqah yang banyak diselenggarakan itu memang tidak bertujuan mencetak ahli syariah, tetapi lebih kepada membentuk wawasan dan kepribadian yang Islami. Untuk bisa menelurkan ahli syariah, yang dibutuhkan adalah kuliah di fakultas syariah. Dan untuk melahirkan aktifis yang memiliki wawaan fikrah Islam serta memiliki kepribadian yang islami, sarana halaqah umumnya lumayan Bermanfaat.
Namun semua itu tidak lain hanyalah wasilah (sarana) yang bisa dimanfaatkan dalam rangka dakwah kepada Allah dan melahirkan generasi yang islami.
2. Urgensi Ikut Liqo’
Sebagaimana yang kami jelaskan, liqo atau halaqah hanyalah sebuah format metode pembinaan yang selama ini cukup efektif untuk melahirkan kader-kader yang dibutuhkan. Tetapi esensinya adalah membina dan melahirkan afrad (individu) yang memiliki kriteria tertentu seperti beraqidah yang shahih dan syamil, beribadah yang berkualitas, akhlaq yang mulia, produktif dalam beramal dan seterusnya.
Biasanya sarana yang digunakan tidak berhenti pada pertemuan mingguan saja, tapi ada juga yang bersifat rekreatif, ilmiyah, hiburan dan seterusnya. Namun semua itu dalam rangka menghidupkan sistem kehidupan yang islami. Tidak ikut liqo` bukan suatu dosa yang akan membawa seseorang masuk neraka. Namun liqo` dalam makna istilah seperti yang kami sebutkan di atas selama ini sudah memiliki peran dalam rangka membentuk unsur-unsur kebaikan dalam tubuh umat Islam. Paling tidak merupakan sebuah gerakan alternatif dalam rangka menghidupkan Islam sebagai manhaj / sistem kehidupan. Dan arahnya adalah menuju kepada lahirnya generasi islami, rumah tangga islami, masyarakat islami bahkan hingga negara dan khilafah islamiyah.
Sehingga seyogyanya setiap generasi muda Islam ini ikut aktif dan mengambil peranan dalam setiap jenis usaha untuk mensukseskan kebangkitan Islam.
3. Peran Murabbi dalam menangani masalah mad`u-nya
Murabbi sebenarnya memiliki peran yang sangat signifikan dalam membina dan membentuk binaannya. Secara umum, sosok murabbi yang ideal adalah yang bisa menjadi sosok seorang ayah yang mengayomi, seorang guru yang mengajarkan ilmu, seorang sahabat sejati dan juga seorang pimpinan yang menunjuki.
Berbeda dengan guru atau dosen yang tugasnya melemparkan materi dan pergi, murabbi justru bertugas untuk menemani dan hidup bersama dengan para binaannya, memberi teladan langsung dan juga menjadi sosok panutan.
Karena itu tugas seorang murabbi sungguh sangat berat dan sukar. Karena harus merangkap sekian banyak peran dan tugas. Tapi hadirnya seorang murabbi ideal memang sebuah keharusan meski jalan menuju kesana penuh onak dan duri.
4. Taklimat
Taklimat itu maknanya adalah pengumuman. Biasanya digunakan sebagai sarana penyampaian pesan atas suatu hal, baik berupa pengumuman internal maupun yang terkait dengan masalah eksternal. Isinya mungkin saja semacam kebijakan dan arahan atas suatu masalah.
Memang bila dilihat secara sepihak, kesan dari taklimat itu seperti indoktrinasi, apalagi bila disampaikan dengan cara yang kurang mengena.
Seperti kalimat berikut “Pokoknya ini perintah dari atas, ente ngak usah tanya-tanya”. Buat mereka yang sudah punya intima` dan tsiqah yang kuat, barangkali penyampaian taklimat itu menjadi sesuatu yang biasa saja. Sebaliknya, mereka yang tidak terbiasa dan belum lama berinteraksi dalam sebuah aktifitas amal jama`i yang besar, maka bahasa penyampaian taklimat itu perlu disesuaikan agar terasa enak didengar dan tidak bertentangan dengan naluri dan rasa kemanusiaan seseorang. Sebenarnya hal itu bisa disampaikan dengan baik asal para murabbi betul-betul mengerti dan paham betul apa yang sedang dikatakannya. Bukan sekedar taat tapi tidak paham. Maka kalau sang murabbi saja tidak paham, bagaimana dia akan memahamkan mad`unya itu ? Jangan-jangan yang lahir adalah gerakan tidak paham massal. Padahal salah satu dari prinsif pergerakan itu yang paling pokok adalah masalah
Al-Fahmu, yang maknanya pemahaman yang jelas. Jangan sampai dalam bergerak dan berdakwah seseorang berjalan hanya berdasarkan taqlid dan ketidak-mengertian, dengan alasan bahwa sebagai prajurit semua harus taat pada pimpinan. Justru menjadi kewajiban para pimpinan untuk menjelaskan apa latar belakang dan dasar syar`i dari suatu kebijakan. Hal ini penting untuk diperhatikan agar seorang ketika berjihad, merasa paham dan yakin betul atas apa yang dikerjakannya dan merasa nyaman dengan apa yang diperjuangkannya itu.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab.
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

  • —–Original Message—–
    From: Listya Utami [mailto:l.utami@hot-hed.com]
    Sent: Thursday, July 28, 2005 11:17 AM
    To: partai-keadilan-sejahtera@yahoogroups.com

Don’t Give Up, by Josh Groban

Don’t give up
It’s just the weight of the world
When your heart’s heavy
I…I will lift it for you

Don’t give up
Because you want to be heard
If silence keeps you
I…I will break it for you

Everybody wants to be understood
Well I can hear you
Everybody wants to be loved
Don’t give up
Because you are loved

Don’t give up
It’s just the hurt that you hide
When you’re lost inside
I…I will be there to find you

Don’t give up
Because you want to burn bright
If darkness blinds you
I…I will shine to guide you

Everybody wants to be understood
Well I can hear you
Everybody wants to be loved
Don’t give up
Because you are loved

You are loved
Don’t give up
It’s just the weight of the world
Don’t give up
Every one needs to be heard
You are loved

RAMADHAN

Ramadhan…
Aku menunggumu penuh harap
dengan segenap cita dan cinta
berbalut harap dan asa

Ramadhan…
Aku menantimu penuh rasa
Ingin jumpa
dalam rintik dan teriknya suasana

Oh, betapa tidak?
Berbulan lamanya engkau pergi

Betapa tidak?
Gelimangan rahmat tercurah dalam rentang masamu

Ah, tak ingin lagi kusiakan
tak ingin lagi kutinggalkan
tiap detik tak terlupakan
bersamamu…

Ketika mega merah berubah putih
dan adzan isya’ diperdengarkan
mengikutilah tarawih bersama kita
Khidmat dalam detak rindu pada Pencipta
Bukankah kenikmatan yang luar biasa?
Maka berpikirlah agar engkau termasuk orang yang beruntung lagi mengerti

Terjaga di akhir malam
di hangatkan nikmatnya munajat dalam sujud
pada Tuhan yang bahkan lebih dekat dari urat nadi kita
pula mengakhir sahur sebelum fajar
Bukankah kenikmatan yang luar biasa?
Rasakanlah.
Dan bersyukur pada Tuhanmu yang Maha Memberi

fajar, pagi-pagi, dan dhuha
yang gema ayat cinta-Nya menyejukkan jiwa
dari rumah-rumah, surau, hingga membumi
dan langit bersaksi
Dengarkanlah.
Dan tidakkah kau rasa cinta-Nya di setiap tarikan napasmu?

Dan siang yang membara
diwarna terik yang membakar himpunan raga
meraup sejuta dahaga
sedang bibir yang kering tak jemu bersuara
membaca huruf demi huruf
memahami kalam suci-Nya
Begitu sejuk, meski tak terlihat mata
Bukankah itu kenikmatan yang luar biasa?
Jangan menggeleng
Jangan mengangguk
Rasakanlah.
Dan betapa akan kau sadari
betapa Maha Pengasih dan Penyayang Tuhan kita.

Lalu senja
yang menyala jingga
bersemburatan di sisi-sisi langit
masih pula terlantun kalam cinta
dalam taat dan takwa yang indah
Jangan terdiam saja menanti tenggelamnya
Nikmati setiap detik dalam dzikir jiwa raga
Dan rasakan setiap sel bertasbih sebut asma-Nya
Indah, bukan?

Dan sang syams pun tenggelam
Air surgawi mengalir
sejukkan lorong kering nan merindu
meliputi taat, harap, dan cinta
membina takwa
membingkai syukur berpilar kesabaran
Ah…
Nikmat.
Bahagia.
Indah.
Sungguh!
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang hendak kau dustakan?
Dialah Allah, tiada Tuhan selain Ia
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Namun jangan terlena
bumi sudah merindukan keningmu lagi
Allah yang kau tuju telah memanggil
Maghrib, bukan?
Maka bersegeralah bersama senyummu

Dan ingatlah..
Kabar gembira untuk yang beriman,bertakwa dalam jalan-Nya

Dan ingatlah..
Kufur adalah celaka.
Kufur adalah celaka.
Maka kembalilah pada Tuhanmu yang Maha Pengampun
Maka kembalilah pada Tuhanmu yang masih memberi waktu
agar kau sadari
agar kau mengerti
dan agar kau kembali.
Dialah Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tiada daya dan kekuatan melainkan atas izin dan kuasa Allah.
Laa haula wa laa quwwata illaa billaahiil ‘aliyyil ‘adziim.

Asyhadu An Laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.

KEDIRI
Ahad, 10 Agustus 2008
21.07

Diena Fukiha

SDI Ekstern 2009

SDI Ekstern 2009

Assalamu ‘alaykum wr.wb

Untuk adik-adikku siswa SMP/MTs di Kediri dan sekitarnya,,,

Ayo, gabung dg qt2 di SDI Ekstern 2009 yang akan di adakan di SMA Negeri 2 Kediri.

Temanya, “LEJITKAN POTENSI DIRI, RAIH CAHAYA ILAHI!”

Udah kebayang, kan,,,

Selain dapat materi asyik, pengalaman menarik, dan bisa kumpul sama temen2 yg banyak, adik-adik juga bisa mengikuti lomba-lomba Islami berhadiah!

Ada lomba CCAI (Cerdas Cermat Agama Islam),

Tartil,

Kaligrafi,

Adzan,

& Pidato Islami.

Acaranya hari sabtu-ahad, 23-24 Mei 2009.

Kami buka

pendaftaran tanggal 10-17 Mei

lho..

So, buruan daftar!!

Gak ada batasan buat maju, gak ada batasan nuntut ilmu.

Ingat, meskipun Anda ZERO, yakinlah Anda bisa jadi HERO.

Yang merasa HERO, ingatlah untuk terus berusaha menjadi SUPER HERO,.

Info lebih lanjut, bisa menghubungi hubungi Contac Person yang tertera pada pamflet di atass..


Salam persaudaraan,

Panitia SDI 2009

Takmir Masjid Al-Anwar Smada

Wassalamu ‘alaykum wrwb

Berbicara tentang Iman Kita

allahCARA MENAIKKAN KADAR IMAN :

1. Pelajarilah berbagai ilmu agama Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits

a. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan renungkan maknanya
Ayat-ayat Al-Qur’an memiliki target yang luas dan spesifik sesuai kebutuhan masing-masing orang yang sedang mencari atau memuliakan Tuhannya. Sebagian ayat Al-Qur’an mampu menggetarkan kulit seseorang yang sedang mencari kemuliaan Allah, dilain pihak Al-Qur’an mampu membuat menangis seorang pendosa, atau membuat tenang seorang pencari ketenangan.
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS, Shaad 38:29)
”Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS, al-Israa’ 17:82)

b. Pelajarilah ilmu mengenai Asma’ul Husna, Sifat-sifat Yang Maha Agung.
Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, maka ia akan menahan lidahnya, anggota tubuhnya dan gerakan hatinya dari apapun yang tidak disukai Allah.
Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Indah, Maha Agung dan Maha Perkasa, maka semakin besarlah keinginannya untuk bertemu Allah di hari akhirat sehingga iapun secara cermat memenuhi berbagai persyaratan yang diminta Allah untuk bisa bertemu dengan-Nya (yaitu dengan memperbanyak amal ibadah).
Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Santun, Maha Halus dan Maha Penyabar, maka iapun merasa malu ketika ia marah, dan hidupnya merasa tenang karena tahu bahwa ia dijaga oleh Tuhannya secara lembut dan sabar.

c. Pelajari dengan cermat sejarah (Siroh) kehidupan Rasulullah SAW.
Dengan memahami perilaku, keagungan dan perjuangan Rasulullah, akan menumbuhkan rasa cinta kita terhadapnya, kemudian berkembang menjadi keinginan untuk mencontoh semua perilaku beliau dan mematuhi pesan-pesan beliau selaku utusan Allah.
Seorang sahabat r.a. mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, “Wahai Rasul Allah, kapan tibanya hari akhirat?”. Rasulullah saw balik bertanya : “Apakah yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari akhirat?”. Si sahabat menjawab , “Wahai Rasulullah, aku telah sholat, puasa dan bersedekah selama ini, tetap saja rasanya semua itu belum cukup. Namun didalam hati, aku sangat mencintai dirimu, ya Rasulullah”. Rasulullah saw menjawab, “Insya Allah, di akhirat kelak engkau akan bersama orang yang engkau cintai”. (HR Muslim) Inilah hadits yang sangat disukai para sahabat Rasulullah SAW. Jelaslah bahwa mencintai Rasulullah adalah salah satu jalan menuju surga, dan membaca riwayat hidupnya (siroh) adalah cara terpenting untuk lebih mudah memahami dan mencintai Rasulullah SAW.

d. Mempelajari Jasa-jasa dan Kualitas Agama Islam
Perenungan terhadap syariat Islam, hukum-hukumnya, akhlak yang diajarkannya, perintah dan larangannya, akan menimbulkan kekaguman terhadap kesempurnaan ajaran agama Islam ini. Tidak ada agama lain yang memiliki aturan dan etiket yang sedemikian rincinya seperti Islam, dimana untuk makan dan ke WC pun ada adabnya, untuk aspek hukum dan ekonomi ada aturannya, bahkan untuk berhubungan suami -istripun ada aturannya.

e. Mempelajari Kehidupan Orang-orang Sholeh (generasi Shalafus Sholihin, para sahabat Rasulullah SAW, murid-murid para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in)
Mereka adalah generasi-generasi terbaik dari Islam. Mereka adalah orang-orang yang kadar keimanannya diibaratkan sebesar gunung Uhud sementara manusia zaman kini diibaratkan kadar keimananya tak lebih dari sebutir debu dari gunung Uhud. Umar r.a. pernah memuntahkan makanan yang sudah masuk ke perutnya ketika tahu bahwa makanan yang diberikan padanya kurang halal sumbernya. Sejarah lain menceritakan tentang lumrahnya seorang tabi’in meng-khatamkan Qur’an dalam satu kali sholatnya. Atau cerita tentang seorang sholeh yang lebih dari 40 tahun hidupnya berturut-turut tidak pernah sholat wajib sendiri kecuali berjamaah di mesjid. Atau seorang sholeh yang menangis karena lupa mengucap doa ketika masuk mesjid. Inilah cerita-cerita teladan yang mampu menggetarkan hati seorang yang sedang meningkatkan keimanannnya.

2. Renungkanlah tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam (ma’rifatullah)
Singkirkan dulu kesombongan akal kita, renungkan secara tulus bagaimana alam ini diciptakan. Sungguh pasti ada kekuatan luar biasa yang mampu menciptakan alam yang sempurna ini, sebuah struktur dan sistem kehidupan yang rapi, mulai dari tata surya, galaksi hingga struktur pohon dan sel-sel atom.
Renungkan pula rahasia dan mukjizat Qur’an. Salah satu keajaiban Al Qur’an adalah struktur matematis Al Qur’an. Walau wahyu Allah diturunkan bertahap namun ketika seluruh wahyu lengkap maka ditemukan bahwa kata tunggal “hari” disebut sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada satu tahun syamsiyyah (masehi). Kata jamak hari disebut sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan. Sedang kata Syahrun (bulan) dalam Al Quran disebut sebanyak 12 kali sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun. Kata Saa’ah (jam) disebutkan sebanyak 24 kali sama dengan jumlah jam sehari semalam. Dan semua kata-kata itu tersebar di 114 surat dan 6666 ayat dan ratusan ribu kata yang tersusun indah. Dan masih banyak lagi keajaiban dan mukjizat Al Quran dari sisi pandang lainnya yang membuktikan bahwa itu bukan karya manusia. Masih banyak pula mukjizat lainnya di alam ini yang membuktikan bahwa alam ini memiliki struktur yang sangat sempurna dan tidak mungkin tercipta dengan sendirinya. Adalah lumrah, bahwa sesuatu yang tidak mungkin diciptakan manusia, pastilah diciptakan sesuatu yang Maha Kuasa, Maha Besar. Inilah yang menambah kecilnya diri kita dan menambah kekaguman dan cinta serta iman kita kepada Sang Pencipta alam semesta ini.

3. Berusaha keras melakukan amal perbuatan yang baik secara ikhlas
Amal perbuatan perlu digerakkan. Dimulai dari hati, kemudian terungkap melalui lidah kita dan kemudian anggota tubuh kita. Selain ikhlas, diperlukan usaha dan keseriusan untuk melakukan amalan-amalan ini.
a. Amalan Hati
Dilakukan melalui pembersihan hati kita dari sifat-sifat buruk, selalu menjaga kesucian hati. Ciptakan sifat-sifat sabar dan tawakal, penuh takut dan harap akan Allah. Jauhi sifat tamak, kikir, prasangka buruk dan sebagainya.
b. Amalan Lidah
Perbanyak membaca Al-Qur’an, zikir, bertasbih, tahlil, takbir, istighfar, mengirim salam dan sholawat kepada Rasulullah dan mengajak orang lain kepada kebaikan, melarang kemungkaran.
c. Amalan Anggota Tubuh
Dilakukan melalui kepatuhan dalam sholat, pengorbanan untuk bersedekah, perjuangan untuk berhaji hingga disiplin untuk sholat berjamaah di mesjid (khususnya bagi pria).

SEBAB-SEBAB TURUNNYA KADAR IMAN :

Sebab-sebab dari dalam diri kita sendiri (Internal) :

1. Kebodohan
Kebodohan merupakan pangkal dari berbagai perbuatan buruk. Seseorang berbuat jahat boleh jadi karena ia tak tahu bahwa perbuatan itu dilarang agama, atau ia tidak tahu ancaman dan bahaya yang akan dihadapinya kelak di akhirat, atau ia tidak tahu keperkasaan Sang Maha Kuasa yang mengatur denyut jantungnya, mengatur musibah dan rezekinya.

2. Ketidakpedulian, keengganan dan melupakan
Ketidakpedulian menyebabkan pikiran seseorang diisi dengan hal-hal duniawi yang hanya ia sukai (yang ia pedulikan), sedangkan yang bukan ia sukai tidak diberi tempat dipikirannya. Ini menyebabkan ia tidak ingat (dzikir) pada Allah, sifatnya tidak tulus, tidak punya rasa takut dan malu (kepada Allah), tidak merasa berdosa (tidak perlu tobat), dan bisa jadi ia menjadi sombong karena tidak merasakan pentingnya berbuat rendah hati dan sederhana.
Kengganan seseorang untuk melakukan suatu kebaikan padahal ia tahu hal itu telah diperintahkan Allah, maka ia termasuk orang yang men-zhalimi (melalaikan) dirinya sendiri. Allah akan mengunci hatinya dari jalan yang lurus (al-Kahfi 18:5), dan ia akan menjadi teman syeitan (Thaaha 20:124).
Melupakan kewajiban dan kepatuhan seseorang dalam beribadah berawal dari sifat lalai atau lemah hatinya. Waktu dan energinya harus didorong agar diisi lebih banyak dengan perbuatan amal sholeh, kalau tidak maka kesenangan duniawi akan semakin menguasai dirinya hingga ia semakin jauh dari ingat (dzikir) kepada Allah.

3. Menyepelekan dan melakukan perbuatan dosa
Awal dari perbuatan dosa adalah sikap menyepelekan (tidak patuh terhadap) perintah dan larangan Allah. Perbuatan dosa umumnya dilakukan secara bertahap, misalnya dimulai dari zinah pandangan mata yang dianggap dosa kecil kemudian berkembang menjadi zinah tubuh. Dosa-dosa kecil yang disepelekan merupakan proses pendidikan jahat (pembiasaan) untuk menyepelekan dosa-dosa besar. Karena itu basmilah dosa-dosa kecil selagi belum tumbuh menjadi dosa besar.

4. Jiwa yang selalu memerintahkan berbuat jahat
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, Allah menggabungkan dua jiwa, yakni jiwa jahat dan jiwa yang tenang sekaligus dalam diri manusia, dan mereka saling bermusuhan dalam diri seorang manusia. Disaat salah satu melemah, maka yang lain menguat. Perang antar keduanya berlangsung terus hingga si empunya jiwa meninggal dunia. Adalah sungguh merugi orang-orang yang jiwa jahatnya menguasai tubuhnya. Seperti sabda Rasulullah, “..barang siapa yang diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkannya maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk”. Sifat lalai, tidak mau belajar agama, sombong dan tidak peduli merupakan beberapa cara untuk membiarkan jiwa jahat dalam tubuh kita berkuasa. Sedangkan sifat rendah hati, mau belajar, mau melakukan instropeksi (muhasabah) merupakan cara untuk memperkuat jiwa kebaikan (jiwa tenang) yang ada dalam tubuh kita.

Sebab-sebab dari luar diri kita (External) :

1. Syaitan
Syaitan adalah musuh manusia. Tujuan syaitan adalah untuk merusak keimanan orang. Siapa saja yang tidak membentengi dirinya dengan selalu mengingat Allah maka ia menjadi sarang syaitan, menjerumuskannya dalam kesesatan, ketidak patuhan terhadap Allah, membujuknya melakukan dosa.

2. Bujukan dan rayuan dunia
Allah SWT berfirman : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, al-Hadiid 57:20).
Tujuan hidup manusia seluruhnya untuk akhirat. Apapun kegiatan dunia yang kita lakukan, seperti mencari nafkah, menonton TV, bertemu teman dan keluarga, seharusnya semua itu ditujukan untuk meraih pahala akhirat. Tidak secuilpun dari kegiatan duniawi boleh dilepaskan dari aturan main yang diperintahkan atau dilarang Allah. Ibnul Qayyim mengibaratkan hati sebagai suatu wadah bagi tujuan hidup manusia (akhirat dan duniawi) dengan kapasitas (daya tampung) tertentu. Ketika tujuan duniawi tumbuh maka ia akan mengurangi porsi tujuan akhirat. Ketika porsi tujuan akhirat bertambah maka porsi tujuan duniawi berkurang. Dalam situasi dimana tujuan dunia menguasai hati kita maka hanya tersisa sedikit porsi akhirat di hati kita, dan inilah awal dari menurunnya keimanan kita.

3. Pergaulan yang buruk
Rasulullah bersabda : “Seseorang itu terletak pada agama teman dekatnya, sehingga masing-masing kamu sebaiknya melihat kepada siapa dia mengambil teman dekatnya” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, al-Hakim, al-Baghawi).
Seorang teman yang sholeh selalu memperhatikan perintah dan larangan Allah, karenanya ia selalu mengajak siapa saja orang disekitarnya untuk menuju kepada kebaikan dan mengingatkan mereka bila mendekati kemungkaran. Teman dan sahabat yang sholeh sangat penting kita miliki di zaman kini dimana pergaulan manusia sudah sangat bebas dan tidak lagi memperhatikan nilai-nilai agama Islam. Berada diantara teman-teman yang sholeh akan membuat seorang wanita tidak merasa asing bila mengenakan jilbab. Demikian pula seorang pria bisa merasa bersalah bila ia membicarakan aurat wanita diantara orang-orang sholeh. Sebaliknya berada diantara orang-orang yang tidak sholeh atau berperilaku buruk menjadikan kita dipandang aneh bila berjilbab atau bahkan ketika hendak melakukan sholat.

Menaikkan kadar iman bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena begitu banyak usaha (menuntut ilmu, amalan-amalan) yang harus kita lakukan disamping godaan (syaitan, duniawi) yang akan kita hadapi. Paling tidak kita termasuk orang-orang yang lebih beruntung dibanding orang lain yang belum sempat mengetahui “sebab-sebab naik-turunnya iman” dalam tulisan ini. Mari kita ingatkan teman-teman kita dengan menyebarkan tulisan ini.

Sumber :
1. Sebab-sebab Naik Turunnya Iman, oleh Syaikh Abdur Razzaaq al-Abbaad
2. Asma’ul Husna, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
3. Penawar Hati yang Sakit, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Diam itu…

 i love AllahDalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.”, hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

1. Jenis-jenis Diam
Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

a. Diam Bodoh
Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

b. Diam Malas
Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

c. Diam Sombong
Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

d. Diam Khianat
Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

e. Diam Marah
Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

f. Diam Utama (Diam Aktif)
Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.

2. Keutamaan Diam Aktif

a. Hemat Masalah
Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

b. Hemat dari Dosa
Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

d. Lebih Bijak
Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

e. Hikmah Akan Muncul
Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

f. Lebih Berwibawa
Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:

1. Diam dari perkataan dusta
2. Diamdari perkataan sia-sia
3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
4. Diam dari kata yang berlebihan
5. Diam dari keluh kesah
6. Diam dari niat riya dan ujub
7. Diam dari kata yang menyakiti
8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid “laa ilaha illallah” puncak perkataan yang menghantarkan ke surga. Aamiin

Aa’ Gym

Jangan Menangis, Deff..

jalan panjangSemua bermula sejak malam itu. Aku tak tahu mengapa, ayah dan ibu bertengkar. Sebelumnya aku tak pernah melihat mereka seperti itu. Saat itu Deff telah tidur, sedangkan aku terjaga karena suara mereka yang seperti masuk dalam mimpiku. Tapi waktu itu aku juga masih terlalu kecil untuk mengerti. Kupikir hanya sekedar dan aku pun kembali tidur.

Pada pagi hari, aku pun sudah melupakannya. Sepertinya juga tak ada apapun yang mengingatkanku tentang malam itu. Tapi, tak begitu. Malam selanjutnya aku terjaga lagi karena pertengkaran mereka. Sesegera mungkin aku turun dari tempat tidur dan hendak keluar dari kamar. Tapi tak bisa. Kucoba membuka pintu itu berulang kali, tapi terkunci.

Dari lubang kuncilah , mataku menerawang. Deg!… jantungku bergoncang keras. Semua tak dapat kupercaya. Mengapa mereka harus melakukan itu? Mengapa harus memukul? Ibu, ayah, hentikan!!! Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi aku tak bisa. Mulutku terkunci seperti kamar ini…

Dan lubang kunci ini bersaksi atas mataku yang memandang mereka, hingga semuanya berakhir. Salah satu dari mereka pergi meninggalkan yang lain. Seketika gaungan suara di telingaku meredam. Seseorang masih duduk di sana. Memegang erat kepala dengan kedua tangannya. Aku terdiam. Tak mengerti mengapa.

Ia berdiri. Aku tertegun. Diraihnya kunci itu dan melangkah menuju pintu. Aku segera beranjak kembali pada selimutku. Kupejameratkan mataku. Aku susah mengatur napas.

Pintu itu terbuka. Sinar merambat remang ke dalam kamar. Langkahnya semakin mendekat. Jantungku berdebar. Aku.. aku tak mengerti. Aku takut seperti, padahal ia orang tuaku…

Ranjang Deff yang kuhadap adalah yang pertama. Ia duduk di sana. Tangannya…

Bersambung…

Untuk Jiwa-Jiwa yang Terjebak Sepi

frogaku ingin bertahan, tiada uluran tuk menahanku
mungkin memang tanganku yang harus menggenggam dan menguatkanmu

aku ingin bercerita, tiada teman tuk mendengar dan mengerti
mungkin memang aku yang harus siap mendengar dan terbuka tuk mengerti bahagia, duka dan laramu

aku ingin menangis,tiada yang memahami
mungkin memang aku yang harus mengerti dan memahami di kala tangismu

aku ingin bersandar,tiada bahu tuk ku sandari
mungkin memang bahuku yang harus kurendahkan untuk kau sandari

Aku tak sanggup berdiri, tiada jua yang menyertai
mungkin memang aku yang harus sedia menyertai dan menuntunmu ketika kau tak sanggup berjalan sendiri

Aku tak sanggup menahan luka, tak ada yang memelukku sepenuh jiwa
mungkin memang aku yang harus menguatkan diri

Manusia diciptakan berbeda-beda
Dan kekurangan bukan perhentian
karena di balik setiap kekurangan,
berdiri dan menanti peluang dan potensi kebaikan lain yang akan mengobatinya.

Ialah Allah yang Maha Adil lagi Maha Sempurna.

Jika ada kesalahan, sesungguhnya merupakan kekhilafan dan kecerobohanku
Sedang kebenaran dan kebaikan hanya datang dari Allah semata.

KEDIRI,
11-12 Agustus 2008
17.15 … 21.00